INDONESIA GELAP
Di bawah langit yang mendung dan berat,
anak-anak negeri bersuara lantang di jalanan.
Mereka mengenakan baju hitam, bukan karena duka,
tapi sebagai simbol perlawanan yang membara.
Mereka berkata:
"Polisi harus dibenahi,
energi untuk rakyat,
naikkan taraf hidup kami,
tunaikan hak guru dan dosen,
perbaiki program makan bergizi,
lawan mafia tanah,
dan lengserkan pejabat tolol."
Ini bukan sekadar seruan,
tapi jeritan hati yang lama terpendam.
Di kampus-kampus,
mahasiswa dan dosen bersatu,
menolak revisi UU TNI yang mengancam demokrasi.
Mereka menuntut:
"Batalkan revisi yang tergesa,
tegakkan supremasi sipil,
hentikan dwifungsi militer,
dan kembalikan reformasi ke jalurnya."
Sementara itu, di tanah Papua,
suara-suara menuntut keadilan menggema:
"Tutup Freeport dan BP LNG Tangguh,
hentikan operasi militer,
berikan hak penentuan nasib sendiri,
dan akui hak-hak masyarakat adat."
Mereka bukan sekadar menuntut,
tapi memperjuangkan hak yang telah lama diabaikan.
Di tengah semua ini,
pemerintah memotong anggaran pendidikan,
mengorbankan kesejahteraan guru dan dosen.
Mereka berkata:
"Ini demi program makan gratis."
Namun, rakyat bertanya:
"Apakah kenyang perut lebih penting dari kenyang pikiran?"
Di jalanan,
protes terus bergulir,
dari Jakarta hingga Surabaya,
dari Yogyakarta hingga Papua.
Mereka membawa spanduk,
menyanyikan lagu-lagu perlawanan,
dan menyalakan lilin sebagai simbol harapan.
Ini adalah Indonesia Gelap,
tapi dalam kegelapan,
nyala perlawanan tak pernah padam.
Karena di setiap sudut negeri,
ada hati yang masih percaya,
bahwa keadilan dan demokrasi
bukan sekadar mimpi,
tapi hak yang harus diperjuangkan.
--Telyawar, 2025

Komentar