SIDANG CINTA KITA BELUM DITUTUP
---
Kita pernah duduk berdua,
seperti dua anggota dewan yang berbeda fraksi,
membahas pasal-pasal perasaan
dengan suara yang kadang lantang, kadang gemetar.
Aku ajukan mosi percaya:
bahwa cintaku padamu tak akan goyah.
Tapi kau ajukan interupsi,
dan meminta waktu untuk menjelaskan
kenapa hatimu tak bisa dipihak penuh padaku.
Kita menyusun agenda,
berharap debat ini tak berakhir veto.
Namun waktu adalah ketua sidang yang kejam—
memotong setiap upaya kompromi
dengan palu keheningan.
Kau adalah pemimpin mayoritas dalam hidupku,
sementara aku, oposisi yang gigih
menyuarakan rindu dalam setiap jeda.
Aku tak ingin menggulingkan siapa-siapa,
aku hanya ingin ruang bicara,
di hatimu yang kian tertutup rapat
oleh lobi-lobi masa lalu yang belum kau tuntaskan.
Aku siapkan pidato panjang
tentang mengapa kau layak dicintai,
tentang hak-hak dasar untuk saling percaya,
dan undang-undang hati yang perlu kita bahas ulang.
Tapi kau tak hadir di sidang malam itu.
Kursimu kosong.
Dan aku hanya berdiri sendiri di podium sepi.
Cinta ini bukan revolusi,
tapi bukan pula status quo.
Ia ingin berubah,
ingin disahkan oleh dua tangan yang saling genggam,
bukan saling menunjuk.
Kita pernah menyusun rencana kerja,
berharap tahun depan kita jadi kabinet pasangan yang kuat.
Tapi apa daya,
kau mundur sebelum pelantikan.
Tanpa pernyataan resmi,
tanpa siaran pers.
Kini aku hanya rakyat kecil
yang masih memasang poster harapanmu di dinding dada,
meski kampanyemu sudah selesai.
Aku belum mencabut kepercayaan ini,
meski konstitusi cintamu tampak tak mengakui eksistensiku.
Tapi tahukah kau?
Di setiap pemilu hati,
namamu selalu menang mutlak.
Tak ada calon lain yang mampu
menyusun visi sehangat pelukmu,
atau program kerja seindah senyummu.
Dan meski kita tak lagi bersidang,
aku tahu satu hal pasti:
sidang cinta kita belum ditutup,
dan aku masih di sini—
mengangkat tangan,
menunggu kau kembali mengajukan
perdamaian.
Telyawar,2025
---

Komentar